Wajah Selepas Hujan
Oleh : Dani Ardiansyah
: Lentera
wajahnya adalah rangkuman damai selepas subuh
yang menghantar dingin menyapu tanah
yang menjadikan titik air bergantung di pepucukan
yang menyulap lelap kerumunan kartu di pos ronda
tak peduli subuh pelan menguap
yang menghantar pulang demit dan ririwa
: hanya ada dengkur halus da ...
selanjutnya
Perjalanan Menuju Kesejatian
Oleh : DK Darusman
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Setiap manusia dewasa tentu pernah merindukan sebuah pencerahan. Apakah pencerahan itu dalam konteks spiritualitas, maupun dalam kerangka pengembangan diri. Orang-orang yang mampu menjaga kerinduannya akan pencerahan mempunyai kesempatan untuk secara konsisten memb ...
selanjutnya
Kejutan Dalam Menulis
Oleh : Arya Noor
Ayah saya baru saja membaca sebuah novel karya Sidney Sheldon. Beliau bercerita bahwa penulis asing itu luar biasa. Penulis asing dapat menulis sesuatu yang hampir tidak pernah terpikirkan oleh pembacanya.
Dalam novel itu, ayah bercerita tentang dua orang penipu (seorang pria dan seora ...
selanjutnya
Menulis Menjadi Kaya
Oleh : Udo Yamin
Manfaat menulis, selain yang telah saya tulis sebelumnya —menjadi abadi, menyelamatkan hidup, dan menyehatkan jiwa-raga— adalah menulis bisa menjadikan kita sebagai orang kaya. Kaya bisa bermakna kaya secara batin, bisa juga kaya secara lahir, alias memiliki harta atau uang yang banyak. Kaya dalam m ...
selanjutnya
Viva La Vida by Coldplay
Oleh : Lia Octavia
Ini lagu yang keren banget. Aku seneng denger gesekan biolanya yang keren. Dengan teks lagu yang mengingatkanku untuk tetap tawadhu, rendah hati, dan membumi. Mengingatkan bahwa hidup ini hanyalah sekejap saja.
Coldplay emang keren banget lagu-lagunya. . ^_^
Selamat menikmati liburan akhir pek ...
selanjutnya
Pelajaran dari Sekolah dan Kehidupan
Oleh : Anwar Holid
Adenita mengeluarkan novel pertama tentang mahasiswi berhati baja yang bertekad menyelesaikan kuliah, meski keluarganya gagal membiayai, dan karena itu dia bekerja keras membiayai hidup dan terpaksa utang ke sana-sini, sampai ketika lulus, mengantongi utang sebesar 70 juta rupiah.
BANDUNG - 9 Mat ...
selanjutnya
DIALOG SEJOLI AKHIR ZAMAN
Oleh : Nursalam AR
Sabtu, 27 Januari 2007
+ Aku ingin baca puisi untukmu, Kasih
- Aku tak butuh kata. Aku butuh nasi!
+ Seriuslah. Aku ingin baca puisi untukmu, sungguh!
- Kenapa harus serius jika kau terus mengigau
singkirkan tangis bombaymu
sekarang bukan jaman pujangga baru
apalagi kurun si tua fansuri ...
selanjutnya
LAPAR NEGERIKU BUKAN JADILAH SEBUAH KELAKAR
Oleh : C. Alin
Nasib zaman di negeriku tak mungkin tertukar
Sekalipun diserabut hitam akar
Direka-reka sesobek kertas. Ditukar
Lapar negeriku bukan jadilah sebuah kelakar
Zaman yang begini dimana punya arti
Busuk bau kusyu'. Amis menusuk
Manusia bertopeng dewa, bopeng bernyawa
Derita jelata, dijual dige ...
selanjutnya
UNTUK AYAH
Oleh : Indra Purnama
Malam baru saja menjelang menyelimuti siang.
Segaris rembulan muda tersungging menyambut kerlip bintang.
Biru langit hampir saja tersapu jingga rona senja kala tangis gerimis mulai menyapa.
Seberkas bayang serasa mendekat perlahan.
Menerusup rongga dada menghadirkan sosok yang hampir terlupa.
...
selanjutnya
GOSIP
Oleh : Epri Tsaqib
mereka bilang
aku harus tiup lilin
ada judul berita di koran
"Angka kemiskinan turun dari tahun lalu"
aku meringis
menahan nyeri
kaca mata tuan presiden makin buram
sementara rumah kontrakan di sebelah rumahku
gaduh, sang istri depresi suaminya kena phk
dan gadis kecil di ujung desa i ...
selanjutnya
KEBEBASAN YANG ABADI
Oleh : Suhartadi Teddy
Berawal dari anggur asmara yang telah kureguk
Geletar di jiwa menari kian kesana-kemari
gemulai liuk tubuhku terbawa oleh angin mu
Sehingga tak dapat terbedakan mana siang dan mana malam
Dahulu adalah lentera di tengah malam
Yang dihidupk ...
selanjutnya
MELUKIS kEHIDUPAN
Oleh : Asri Rakhmawati
Malam ini aku berteduh pada tanpa warna
setelah hitam menggulung semua warna yang kutoreh pada hati
di cerianya kuning, di gembiranya biru, untuk romantisme merah jambu
memerahkan keberanian dalam darah pun mendamaikan hijau menghiasi biru........
aku coba tatihkan rasa menuju putih
perlahan-la ...
selanjutnya
BENCANA PERADABAN
Oleh : C. Alin
Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan
Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangs ...
selanjutnya
MASIHKAH ADA TEMPAT BAGI SI MISKIN DI NEGERI INI?
Oleh : Elisa Koraag
Masihkah ada tempat bagi si miskin di negeri ini?
Jika dengan dalih penertiban dan kerapihan,
Pemerintah kota boleh menggusur pedagang kak lima.
Jika tempat usaha sudah tak ada lagi,
Karena usaha mereka memperburuk penampilan kota.
Masihkah ada tempat bagi si miskin di negeri ini?
Kalau biaya ...
selanjutnya
RAMADHAN
Oleh : Febty Febriani
Untukmu, teman
Sebuah kenangan terurai
Saat-saat kebersamaan kita
Membentuk layar putih
Ada suka...
Ada duka...
Ada bahagia...
Ada sedih...
Kala itu
Dan mungkin ada cabikan luka ketika itu
Menganga, dan bahkan berdarah
di hatimu, teman...
Momen ini...
Di akhir Sya'ban
Menjelang Ramadha ...
selanjutnya
CREEPING DEATH
Oleh : Misbach
ada yang merangkak bersama gemuruh angin
membekuk musim dalam seteguk kopi dingin
yang kau tenggak dengan tenggorokan yang nyaris beku
disumpal puisi bisu dari derit ranjang
saat malam bergoyang mengikuti irama persetubuhan
dan doa yang berceceran di sepanjang warung remang
namun siapa memilih ...
selanjutnya
THE CALL OF KTULU
Oleh : Misbach
rintik gerimis sebuah malam, membangkitkan jiwaku bersama keheningan
untuk melayari asap kemenyan dan aroma kembang setaman
mencoba mengurai doa yang pernah dipanjatkan
dengan lengking gitar yang parau
menggaris sepi dengan sekeping melodi
menuju sebuah surau dengan lampu minyak yang nyaris ma ...
selanjutnya
RASA LAPAR YANG ASING ITU
Oleh : Hasan Aspahani
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput -
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras -
kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang as ...
selanjutnya
BINGKAI KEHIDUPAN
Oleh : Elisa Koraag
Cahaya kemerahan di ufuk barat, mengundang malam
menandakan sang mentari yang kan terbenam
bagaikan manusia, kelak usia meninggi
mengantarkan makna hidup yang hakiki
Tapak-tapak kehidupan yang dilalui
telah meninggalkan jejak di belakang
namun tak berati semua telah diakhiri
walau sifat wa ...
selanjutnya
PERAWAN YANG BERMAIN DENGAN PERASAANNYA
Oleh : Anita Krisnasari
Saat kupikir aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi,
Tiba-tiba kau datang dan muncul di kehidupanku
Menyalakan kembali api yang telah lama padam,
memetik lagi dawai hati yang kian usang,
Membuatku menjadi perawan yang hilang selera makan,
Membangkitkan kembali mimpi2 usang yang sudah mulai be ...
selanjutnya
SEJENAK MENSYUKURI KARYA ILAHI
Oleh : Elisa Koraag
Pucuk daun berayun dihembus bayu
Melambai bagaikan gemulai tangan penari
Hijaunya rerumputan nampak berkilau
Bermandi cahaya matahari
Terukir indah lukisan alam, wujud nyata karya Ilahi
Menghapus lamunan kelam dari setiap hati
Ketika congkak dan sombong menguasai jiwa dan hati
Sukma yang koso ...
selanjutnya
PUISI-PUISI KERINDUAN
Oleh : Suga Diawara
RINDU
Jauh kau dari rengkuhku,
Berlaksa jarak tertambat dalam benak,
Lautan luas membentang menghalang pandang.
Aku baru menapak pagi,
dengan bekal mimpi di malam tadi
Nantikan siang, sayang
Saat kuukir bulir-bulir pasir menjadi istana
Persemayaman ratu dan raja Nirwana
Kan kuundang dika ...
selanjutnya
LAILATUL QADAR
Oleh : Ammy Ramdhania
Malam itu hening
Anginpun tak bergeming
Masjid ini terasa senyap,
Membuai mimpi dalam tidur yang lelap
Disini kuuntai doa
Ditemani derai air mata
Dihujani sejuta harap
Memohon keajaiban dariMu
Hening dan senyap
Adakah telinga ini mendadak tuli?
Atau aku yang tengah mati suri ?
Dimana ...
selanjutnya
KITA HANYA TULISAN
Oleh : Asri Rakhmawati
Setiap detik kita menghirup udara kematian
Tanpa sadar kita meludahinya jauh-jauh
Tak ada bau busuk bagai bangkai
Pada adonan-adonan penghunus ajal
Hanya waktu saja yang berlalu begitu cepat
Yang kita tandai hanyalah sisa napas yang tercekat
Kadang pada itu mulut pun mengap-mengap
Berujar i ...
selanjutnya